H. Adri Abdurrahman bersama Dewan Pembina saat pelantikan.
Suara Masalikil Huda- H. Adri Abdurrahman dipercaya kembali menahkodai Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Masalikil Huda Tahunan, Jepara. Pria yang akrab disapa Haji Adri ini bukan orang baru di dalam lingkungan yayasan yang telah berdiri hampir satu abad itu.
Dalam acara pelantikan yang digelar pada Senin (24/11/2025), pengusaha yang juga bergerak di bidang transportasi ini mengaku, amanat yang diberikan kepadanya untuk mengelola sebuah yayasan pendidikan Islam merupakan tantangan berat.
“Meskipun sebenarnya saya merasa tidak mampu, juga karena faktor usia, namun ini adalah amanah yang diberikan kepada saya dari masyarakat, terutama dari para kiai, tentunya saya sami’na watha’na”, ujar Haji Adri dalam sambutannya sebagai Ketua umum baru.
“Saya sudah mengabdi untuk Masalikil Huda sebenarnya sejak tahun 1992. Saat itu saya diajak bergabung oleh para kiai untuk ikut khidmat ke dalam yayasan”, terang pria kelahiran Sumatera ini saat bercerita awal mula dirinya bergabung ke dalam yayasan Masalikil Huda.
Kendati telah mengabdi di Masalikil Huda sejak lama, namun Haji Adri mengaku tetap tidak bisa menolak jika yang meminta para kiai untuk memimpin Masalikil Huda untuk kedua kalinya.
“Saya juga berharap kepada jajaran pengurus baru yang telah dilantik untuk ikut serta memajukan yayasan peninggalan para kiai ini”, tandas Haji Adri.
Seperti diketahui, YPI Masalikil Huda adalah sebuah yayasan pendidikan yang menaungi beberapa lembaga seperti PAUD, TK, TPQ, MI, MTs, hingga MA. Yayasan yang berdiri tahun 1931 ini juga mempunyai badan usaha di bidang Haji dan Umroh.
Saat ini jajaran Dewan Pembina terdiri dari KH. Imam Shofwan, KH. Abdul Hadi Ma’ruf, H. Umardani, KH. Muhammad Atho’ilah. Sedangkan Jajaran Dewan Pengawas terdiri dari KH. Ainurrofiq, KH. Syifaul Hafid, Drs. Abdul Rozaq Alkam dan Firda Asyhari, SH.
Sekilas Sejarah Masalikil Huda
Madrasah Masalikil Huda didirikan oleh Kiai Abu Syuja’ pada 15 Mei 1931. Nama Masalikil Huda diambil dari perjalanan panjang Kiai Abu Syuja’ yang dimulai dari menuntut ilmu, merintis tempat ngaji di langgar, hingga mendapatkan petunjuk dari gurunya untuk mendirikan lembaga pendidikan.
Masalikil mempunyai arti “beberapa jalan”, sedangkan Huda mempunyai arti “petunjuk”. Jika dimaknai, Masalikil Huda mengandung arti Beberapa Jalan Petunjuk. Salah satunya adalah petunjuk dari sang Guru untuk mendirikan lembaga pendidikan.
Dipimpin langsung oleh Kiai Abu Syuja’ Madrasah Masalikil Huda mulai menata sistem pendidikan yang lebih profesional dengan mengangkat dewan guru. Tetap mempertahankan Kiai Kurdi dan Kiai Ro’is sebagai guru pertama, Kiai Zawawi dan Kiai Muhammad Nur bergabung sebagai guru yang sebelumnya juga murid Kiai Abu Syuja’.
Pendidikan Agama Islam yang diterapkan oleh Kiai Abu Syuja’ di Madrasah Masalikil Huda mendapatkan respon positif dari warga masyarakat. Masyarakat sangat antusias untuk menyekolahkan anaknya di Madrasah Masalikil Huda. Tercatat beberapa murid dari desa tetangga yang jaraknya cukup jauh bersekolah di Madrasah Masalikil Huda. Karena Madrasah Masalikil Huda termasuk lembaga pendidikan pertama di wilayah Kecamatan Tahunan.
Madrasah Masalikil Huda menerapkan sistem pendidikan dengan masuk pagi. Kurikulum yang diterapkan mengadopsi dari pesantren, dengan sistem bandongan dan sorogan. Serta pengajaran kitab-kitab klasik seperti Kitab Sulam Taufiq dan Aqidatul Awwam. Sehingga bisa dikatakan saat itu Madrasah Masalikil Huda mengalahkan Sekolah Rakyat (SR).
Hingga pada suatu ketika Pemerintah Hindia Belanda melarang Madrasah Masalikil Huda sebagai “sekolah arab” untuk masuk pagi. Sempat dicekal dan dilaporkan hingga tingkat pengadilan, namun putusan Pengadilan pada masa itu sangat tidak diduga. Pemerintah Hinda Belanda tetap memperbolehkan Madrasah Masalikil Huda untuk beroperasi dengan masuk pagi. Dengan syarat sore harinya harus masuk Sekolah Rakyat. (SM)
